
Rekor penonton seni kentrung pecah tahun 2008, saat Mochammad Samsuri
manggung tunggal di pentas Demak Art Festival di Tembiring, Kabupaten
Demak, Jawa Tengah. Ketika itu ribuan penonton asyik menyimak gaya
Samsuri bertutur tentang Syaridin alias Sheikh Jangkung. Alkisah, Sheikh
Jangkung lahir di Desa Landoh, Tayu, Pati. Sheikh Jangkung diperkirakan
hidup semasa Sunan Muria atau Raden Umar Said menjadi penyebar agama
Islam. Dia punya karomah yang disegani pada zamannya. Dia menyebarkan
Islam hingga ke Sumatera.
Atas partisipasi menggelar seni tutur di Demak Art Festival 2008,
Samsuri memperoleh penghargaan sebagai pelestari kebudayaan, terutama
sebagai tokoh kentrung. Samsuri menjadi satu-satunya seniman kentrung
yang bertahan di pantai utara-timur Jawa Tengah, meskipun dia sudah
uzur.
Penghargaan dari Dewan Kesenian Demak itu diletakkannya di atas
lemari tua di ruang tamu rumahnya di Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak.
”Ini rumah almarhum bapak saya, Ahmad Pudjo Prayitno, yang juga
seniman kentrung. Saya ini seperti dijebak nasib. Wong waktu masih kelas
V sekolah rakyat sudah sering menggantikan peran bapak kalau
berhalangan,” katanya.
Cerita rakyat Syaridin itu menjadi favoritnya. Hampir 30 tahun cerita
Syaridin menjadi legenda tersendiri bagi Samsuri yang seakan tanpa
lelah menuturkannya kepada masyarakat lewat pentas kentrung. Ada tiga
nilai utama dalam cerita itu, yakni tentang kebenaran, kepasrahan, dan
kejujuran.
Konon Syaridin termasuk orang sakti. Ia naik pohon kelapa, lalu
menjatuhkan diri ke tanah dan tak mati. Kalau kini Indonesia disibukkan
aksi teroris, kata Samsuri, seni tutur seperti kentrung bisa dipakai
untuk meredam terorisme. Dia bisa merekayasa cerita dengan tetap mengacu
kepada Syaridin. Sosok yang menyebarkan Islam secara damai itu.
Suguhan langka
Sebagai seniman kentrung, Samsuri kini tengah prihatin. Tradisi lisan
kentrung sudah jauh ditinggalkan masyarakat. Di pesisir pantura Jawa
Tengah, kentrung menjadi suguhan langka. ”Bisa juga karena perekonomian
rakyat lagi surut. Memanggil saya untuk pentas memang tak murah,”
ucapnya.
Tahun 1959 tiap kali pentas dia dibayar Rp 500 yang ketika itu
relatif bernilai, dan ditonton ribuan orang di pedesaan. Kini honornya
pentas selama empat jam di kampung di Demak sebesar Rp 450.000. Jika
dipanggil ke kota lain di Jawa Tengah, honornya Rp 600.000 hingga Rp
800.00 dan di Jakarta lebih dari Rp 1 juta.
Terlepas dari besarnya honor itu, kisah Samsuri mempertahankan
kentrung pun mengalami pasang-surut. Sebelum 2004 tawaran naik
panggungnya relatif ramai. ”Saya sampai tak tidur di rumah. Sehari main
di Solo (Studio RRI Solo), berlanjut main di Yogyakarta.”
Namun, ketenaran kentrung makin redup seiring meninggalnya satu demi
satu seniman kentrung seangkatan Samsuri. ”Saya seperti ditinggal
sendiri, seolah disuruh main seni tutur kentrung sendirian.”
Untuk menularkan ilmu kentrung pun tak mudah. Samsuri pernah
mengajari kedua anak lelakinya. Namun, keduanya kemudian justru memilih
bekerja biasa daripada menjadi dalang seni tutur kentrung. Ia tak bisa
memaksa mereka.
Samsuri lalu bercerita, saat almarhum ayahnya sakit-sakitan sebelum
meninggal tahun 1967, dia dipercaya meneruskan laku seni tutur itu. Ia
pun rajin menyerap ilmu kentrung lewat penceritaan langsung dari sang
ayah.
Maka, dia hafal dan bisa berimprovisasi bukan hanya tentang sosok
Kiai Syaridin, melainkan juga Sunan Kalijaga. ”Kisah para kiai itu
membangkitkan kebanggaan masyarakat,” kata Samsuri yang rumahnya tak
jauh dari makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.
Meski begitu, Samsuri pun piawai membawakan cerita rakyat lainnya,
seperti legenda Baruklinthing, Raja Angling Dharma, Sunan Gunungjati,
Sunan Muria, Sunan Brayat, Kiai Ageng Pandanaran, Marmaya Ngentrung,
Nabi Yusuf, dan kisah Babad Tanah Jawi.
”Saya bertutur dalam bahasa Jawa, sesekali diselipi bahasa Indonesia.
Penonton suka karena mereka butuh hiburan dari kisah para tokoh masa
lalu yang punya kedigdayaan. Mereka juga merindukan sosok teladan,”
katanya.
Untuk Agustus-an
Meski mendapat penghargaan, Samsuri justru merasa mulai ditinggalkan
pemerintah ataupun masyarakat sejak tahun 2004. Rasa itu muncul seiring
dengan semakin sedikitnya tawaran bermain kentrung di berbagai
kesempatan.
”Belakangan ini, kalau dapat tawaran tiga kali dalam sebulan saja, sudah bagus,” ujarnya.
Apalagi setahun belakangan ini, tawaran pentas kentrung yang
diterimanya bisa dihitung dengan jari. ”Tawaran paling ramai hanya pada
bulan Agustus. Ada saja panitia perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan
(Indonesia) yang meminta saya pentas, bercerita tentang kepahlawanan
para pejuang melawan Belanda.”
Bahkan, permintaan pentas dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta
Dinas Pendidikan di Kabupaten Demak pun sepi. Padahal, dulu dia sempat
diajak dinas pendidikan berpentas keliling sekolah-sekolah.
”Saya diminta untuk mengajarkan budi pekerti dan semangat kebenaran
lewat kisah-kisah dalam seni tutur kentrung,” ujar Samsuri, yang juga
sempat diajak dinas pariwisata berpentas di Taman Mini Indonesia Indah,
Jakarta.
Meski sudah rusak, Samsuri masih menggunakan rebana warisan sang ayah
saat pentas kentrung. Dia memainkan rebana (terbangan) dengan tiga
ukuran, yakni ketipung (rebana kecil), kemplang (sedang), dan rebana
jedur (besar). Terkadang ia meminjam rebana milik masjid di kampungnya.
”Saya tak punya uang untuk membeli rebana baru. Tiga rebana baru
harganya sampai Rp 650.000,” kata Samsuri yang masih setia memenuhi
panggilan pentas kentrung untuk hajatan khitanan, mantenan (pernikahan),
pupak puser (puputan), selapanan bayi, thedak siti, syukuran bayi
berusia sembilan bulan, sampai perayaan Hari Kemerdekaan RI di pabrik
rokok.
Bagaimanapun kondisinya, Samsuri bertekad melestarikan seni tutur
kentrung hingga akhir hayatnya. Dia rindu memiliki murid yang meneruskan
kentrung. Samsuri bersedia melatih siapa pun yang mau belajar kentrung
dengan sungguh-sungguh.
”Jangan biarkan seni kentrung (sering juga disebut kentrungan) punah.
Kentrung itu salah satu warisan budaya Jawa yang sekarang di ambang
senja,” ujarnya lirih.
Data Diri
• Nama: Mochammad Samsuri • Lahir: Bintoro, Demak, Jawa Tengah, 1949 •
Pendidikan: Sekolah rakyat kelas V • Istri: Surilah • Anak: 1. Djumadi
(40) 2. Suparlan (37) 3. Tuminah (35) • Profesi: seniman kentrung