Pages

Senin, 09 Juni 2014

Cara Mengganti Bentuk Cursor Mouse Pada Blog


Bosankan liat cursor/panah mouse begitu-begitu mulu? bagaimana kalau diubah pasti tambah keren apalagi di pasang di blog tercinta sobat, bisa nambah menarik ditambah dengan Cara Memasukan Lagu ke Blog|Tips Memasukan Lagu di Blog Dengan Mudah . Lantas bagaimana sih cara mengubah bentuk cursor mouse pada blog? di artikel BlogRion cara mengubah cursor pada blog ini akan dijelaskan perihal mengubah bentuk cursor panah mouse pada blog tepatnya blog blogspot seperti tutorial dibawah ini :

Cara Mengganti Bentuk Cursor Mouse Blog


  1. Loggin Blogger 
  2. Masuk ke Dashboard
  3. Pilih tata letak
  4. Tambah Gadget / Widget
  5. Pilih HTML/Javascript
  6. Copy pastekan code dibawah ini
<style type="text/css"> body{cursor: url("http://i186.photobucket.com/albums/x100/amoebios_4m/nexuiz_default_cursor_1c.png"), auto;} </style><a href="http://ri-on.blogspot.com/2013/04/mengganti-cursor-kursor-mouse-blog.html" title="Cara Mengganti Cursor di Blog | Mengubah Tampilan Kursor Blog">Kursor Blog</a>
Url yang berwarna Merah adalah link gambar kursor, bisa diganti dengan link dibawah atau upload gambar kursor atau cari link gambar kursor tersebut.

cara mengganti kursor di blog 
http://i1200.photobucket.com/albums/bb321/aNyA_zdej28/FBML%20Vocaloid/C-GUMI.png
cara mengganti kursor di blog cara mengganti kursor di blog
http://i186.photobucket.com/albums/x100/amoebios_4m/nexuiz_default_cursor_1c.png
cara mengganti kursor di blog
http://i44.photobucket.com/albums/f13/LONG65/Element2.gif
cara mengganti kursor blog dengan gambar atau animasi
http://i1013.photobucket.com/albums/af252/oneuglycoffin/PhotoshopEdits/cuppycakecursor.png

Minggu, 08 Juni 2014

(script ) bidadari surga

<div style="text-align: center;">
<embed pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" src="https://dl.dropboxusercontent.com/s/8xy1tc0m2ar721n/Oki_Setiana_Dewi_-_Wanita_Syurga_Bidadari%28www.fullmusik%2Cnet%29.swf" wmode="transparent" type="application/x-shockwave-flash" quality="high" title="oki setiana-wanita syurga bidadari dunia@fullmusik" width="165" height="53"></embed></div>

Memasang Kalender Di Blog ( script )

KLIK : ini untuk memilih macam macam kalender menarik
http://www.hitarek.com/calendarislamicB1.html

<!-- hitarek.com -->
<br><center><iframe src="http://www.hitarek.com/calendar/calendar-islamic30.html" width="143" height="230"
marginwidth="0" marginheight="0" frameborder="no" scrolling=no  allowtransparency="true"></iframe></center>
<center><a style="font-size: 3mm"  target="_blank" href="http://www.hitarek.com">Free  Calendar</a></center>
</br>

Memasang Mp3 di Blog ( script)

<embed align="center" autostart="TRUE" height="1" loop="TRUE" src="http://divine-music.info/musicfiles/01 Harlem Shake.swf" type="application/x-shockwave-flash" width="1"></embed>

Kursor Bertabur Bintang ( script )

<script type="text/javascript" src="https://googledrive.com/host/0ByoCwyjwB1aDRXpQYlFvVGhiMHc"></script>

Jam Digital ( script ) Blog

<script src="http://www.clocklink.com/embed.js"></script><script type="text/javascript" language="JavaScript">obj=new Object;obj.clockfile="5020-white.swf";obj.TimeZone="PST";obj.width=200;obj.height=90;obj.wmode="transparent";showClock(obj);</script>

Rabu, 20 November 2013

MBah Samsuri, Seniman “Kentrung” Demak

Rekor penonton seni kentrung pecah tahun 2008, saat Mochammad Samsuri manggung tunggal di pentas Demak Art Festival di Tembiring, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Ketika itu ribuan penonton asyik menyimak gaya Samsuri bertutur tentang Syaridin alias Sheikh Jangkung. Alkisah, Sheikh Jangkung lahir di Desa Landoh, Tayu, Pati. Sheikh Jangkung diperkirakan hidup semasa Sunan Muria atau Raden Umar Said menjadi penyebar agama Islam. Dia punya karomah yang disegani pada zamannya. Dia menyebarkan Islam hingga ke Sumatera.
Atas partisipasi menggelar seni tutur di Demak Art Festival 2008, Samsuri memperoleh penghargaan sebagai pelestari kebudayaan, terutama sebagai tokoh kentrung. Samsuri menjadi satu-satunya seniman kentrung yang bertahan di pantai utara-timur Jawa Tengah, meskipun dia sudah uzur.
Penghargaan dari Dewan Kesenian Demak itu diletakkannya di atas lemari tua di ruang tamu rumahnya di Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak.
”Ini rumah almarhum bapak saya, Ahmad Pudjo Prayitno, yang juga seniman kentrung. Saya ini seperti dijebak nasib. Wong waktu masih kelas V sekolah rakyat sudah sering menggantikan peran bapak kalau berhalangan,” katanya.
Cerita rakyat Syaridin itu menjadi favoritnya. Hampir 30 tahun cerita Syaridin menjadi legenda tersendiri bagi Samsuri yang seakan tanpa lelah menuturkannya kepada masyarakat lewat pentas kentrung. Ada tiga nilai utama dalam cerita itu, yakni tentang kebenaran, kepasrahan, dan kejujuran.
Konon Syaridin termasuk orang sakti. Ia naik pohon kelapa, lalu menjatuhkan diri ke tanah dan tak mati. Kalau kini Indonesia disibukkan aksi teroris, kata Samsuri, seni tutur seperti kentrung bisa dipakai untuk meredam terorisme. Dia bisa merekayasa cerita dengan tetap mengacu kepada Syaridin. Sosok yang menyebarkan Islam secara damai itu.
Suguhan langka
Sebagai seniman kentrung, Samsuri kini tengah prihatin. Tradisi lisan kentrung sudah jauh ditinggalkan masyarakat. Di pesisir pantura Jawa Tengah, kentrung menjadi suguhan langka. ”Bisa juga karena perekonomian rakyat lagi surut. Memanggil saya untuk pentas memang tak murah,” ucapnya.
Tahun 1959 tiap kali pentas dia dibayar Rp 500 yang ketika itu relatif bernilai, dan ditonton ribuan orang di pedesaan. Kini honornya pentas selama empat jam di kampung di Demak sebesar Rp 450.000. Jika dipanggil ke kota lain di Jawa Tengah, honornya Rp 600.000 hingga Rp 800.00 dan di Jakarta lebih dari Rp 1 juta.
Terlepas dari besarnya honor itu, kisah Samsuri mempertahankan kentrung pun mengalami pasang-surut. Sebelum 2004 tawaran naik panggungnya relatif ramai. ”Saya sampai tak tidur di rumah. Sehari main di Solo (Studio RRI Solo), berlanjut main di Yogyakarta.”
Namun, ketenaran kentrung makin redup seiring meninggalnya satu demi satu seniman kentrung seangkatan Samsuri. ”Saya seperti ditinggal sendiri, seolah disuruh main seni tutur kentrung sendirian.”
Untuk menularkan ilmu kentrung pun tak mudah. Samsuri pernah mengajari kedua anak lelakinya. Namun, keduanya kemudian justru memilih bekerja biasa daripada menjadi dalang seni tutur kentrung. Ia tak bisa memaksa mereka.
Samsuri lalu bercerita, saat almarhum ayahnya sakit-sakitan sebelum meninggal tahun 1967, dia dipercaya meneruskan laku seni tutur itu. Ia pun rajin menyerap ilmu kentrung lewat penceritaan langsung dari sang ayah.
Maka, dia hafal dan bisa berimprovisasi bukan hanya tentang sosok Kiai Syaridin, melainkan juga Sunan Kalijaga. ”Kisah para kiai itu membangkitkan kebanggaan masyarakat,” kata Samsuri yang rumahnya tak jauh dari makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.
Meski begitu, Samsuri pun piawai membawakan cerita rakyat lainnya, seperti legenda Baruklinthing, Raja Angling Dharma, Sunan Gunungjati, Sunan Muria, Sunan Brayat, Kiai Ageng Pandanaran, Marmaya Ngentrung, Nabi Yusuf, dan kisah Babad Tanah Jawi.
”Saya bertutur dalam bahasa Jawa, sesekali diselipi bahasa Indonesia. Penonton suka karena mereka butuh hiburan dari kisah para tokoh masa lalu yang punya kedigdayaan. Mereka juga merindukan sosok teladan,” katanya.
Untuk Agustus-an
Meski mendapat penghargaan, Samsuri justru merasa mulai ditinggalkan pemerintah ataupun masyarakat sejak tahun 2004. Rasa itu muncul seiring dengan semakin sedikitnya tawaran bermain kentrung di berbagai kesempatan.
”Belakangan ini, kalau dapat tawaran tiga kali dalam sebulan saja, sudah bagus,” ujarnya.
Apalagi setahun belakangan ini, tawaran pentas kentrung yang diterimanya bisa dihitung dengan jari. ”Tawaran paling ramai hanya pada bulan Agustus. Ada saja panitia perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan (Indonesia) yang meminta saya pentas, bercerita tentang kepahlawanan para pejuang melawan Belanda.”
Bahkan, permintaan pentas dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Dinas Pendidikan di Kabupaten Demak pun sepi. Padahal, dulu dia sempat diajak dinas pendidikan berpentas keliling sekolah-sekolah.
”Saya diminta untuk mengajarkan budi pekerti dan semangat kebenaran lewat kisah-kisah dalam seni tutur kentrung,” ujar Samsuri, yang juga sempat diajak dinas pariwisata berpentas di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.
Meski sudah rusak, Samsuri masih menggunakan rebana warisan sang ayah saat pentas kentrung. Dia memainkan rebana (terbangan) dengan tiga ukuran, yakni ketipung (rebana kecil), kemplang (sedang), dan rebana jedur (besar). Terkadang ia meminjam rebana milik masjid di kampungnya.
”Saya tak punya uang untuk membeli rebana baru. Tiga rebana baru harganya sampai Rp 650.000,” kata Samsuri yang masih setia memenuhi panggilan pentas kentrung untuk hajatan khitanan, mantenan (pernikahan), pupak puser (puputan), selapanan bayi, thedak siti, syukuran bayi berusia sembilan bulan, sampai perayaan Hari Kemerdekaan RI di pabrik rokok.
Bagaimanapun kondisinya, Samsuri bertekad melestarikan seni tutur kentrung hingga akhir hayatnya. Dia rindu memiliki murid yang meneruskan kentrung. Samsuri bersedia melatih siapa pun yang mau belajar kentrung dengan sungguh-sungguh.
”Jangan biarkan seni kentrung (sering juga disebut kentrungan) punah. Kentrung itu salah satu warisan budaya Jawa yang sekarang di ambang senja,” ujarnya lirih.
Data Diri
• Nama: Mochammad Samsuri • Lahir: Bintoro, Demak, Jawa Tengah, 1949 • Pendidikan: Sekolah rakyat kelas V • Istri: Surilah • Anak: 1. Djumadi (40) 2. Suparlan (37) 3. Tuminah (35) • Profesi: seniman kentrung
Sumber: Jumat, 4 September 2009 | 01:46 WIB KOMPAS/WINARTO HERUSANSONO&Mochammad Samsuri